Minggu, 17 Agustus 2014

Sapta Dharma

      Mengingat salah satu arti dari lambang PASUSKA Ambalan SMK Ma'arif 1 Kebumen adalah Segi Tujuh yang melambangkan Sapta Dharma, Saya Disini akan mempostingkan semampu saya mengenai Sapta Dharma.

     Sapta Darma adalah satu-satunya kerohanian di Indonesia, yang mewajibkan warganya menyembah Hyang Maha Kuasa dan menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma). Wahyu Sapta Darma diterima oleh Bapak Hardjosapoero di Pare, Kediri Jawa Timur pada jam 01.WIB tgl. 27 Desember 1952 (malam Jumat Wage)

     Sapta Darma adalah sebuah aliran kerohanian yang berarti tujuh kewajiban suci. Penerima ajaran Sapta Darma adalah Hardjosapoero, nama aslinya Arjo Sopuro lahir pada tahun 1910 di Desa Semanding, sebelah Utara kecamatan Pare kabupaten Kediri. Bersekolah hanya sampai klas 3 Sekolah Dasar karena orang tuanya tak mampu membeayai. Pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang cukur. Tidak pernah berguru atau mencari ilmu pada kiyai atau ulama lain, seperti yang umumnya dilakukan oleh para mitranya.


HAL-HAL PENTING MENGENAI SAPTA DHARMA
1. Bapak Ardjo Sopuro sebagai Bapa Panuntun Agung Sri Gutomo, sebagai penerima wahyu, sebelum menerima wahyu bukan ahli mengobati dengan magnetisme, bukan dukun, pekerjaan Pak Arjo Sopuro sebagai tukang cukur. Berpendirian keras dan jujur serta dapat dipercaya. Karena sifatnya ini, beliau dipercaya para pedagang berlian untuk memnyimpan dagangannya jika mereka kemalaman dijalan. Informasi ini saya dapatkan dari Ibu Arjo Sopuro, isteri Bapak Arjo Sopuro pada tahun 1973. Justru setelah menerima wahyu, beliau mempunyai kemampuan untuk pengobatan dan banyak lagi kemampuan yang lain, begitu pula kejadiannya dengan warga Kerohanian Sapta Darma yang tekun ibadahnya, mereka akan mendapat anugrah berupa kemampuan lebih dari manusia umumnya bila mana sujudnya dijalankan dengan tekun.
2. Kerohanian Sapta Darma berdasar dari perijinan bukan kebatinan, melainkan Kerohanian bahkan ketika wahyu di terima Bapa Harjo Sapura atau Bapa Panuntun Agung Sri Gutomo berbunyi Agama Sapta Darma. Sewaktu Juru Bicara Panuntun Agung (Ibu Suwartini Martodiharjo SH., anggota MPR fraksi Utusan Daerah) bertemu Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Soeharto tentang masalah perijinan, menyatakan bahwa beliau (Bopo Panuntun Agung Sri Gutomo) tidak pernah menyatakan diri sebagai nabi, sedang agama harus ada nabinya, maka jadilah Kerohanian Sapta Dharma. Kata 'Agama' yang tertulis pada "Agama Sapta Darma" tidak diartikan sebagai kata 'agama' pada umumnya, tetapi singkatan dari A= Asal mula kehidupan manusia dan gama = kama = bibit manusia yang suci.
3. Kerohanian Sapta Darma bukan pecahan dari agama manapun. Oleh karena itu Allah di dalam Kerohanian Sapta Darma bukanlah Hyang Widhi, karena Hyang Widhi adalah Allah pada Agama Hindu, dan tidak didirikan oleh bapa Hardjo Sapuro, melainkan datang dengan sendirinya kepada beliau.

WEWARAH TUJUH
Wewarah tujuh merupakan pedoman hidup yang harus dijalankan warga Sapta Darma. Isi dari Wewarah Tujuh adalah : Dalam bahasa Jawa :
Wewarah Pitu
Wajibing Warga Sapta Darma saben warga kudu netepi wajib:
1. Setya tuhu marang Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa lan Maha Langgeng. 2. Kanthi jujur lan sucining ati kudu setya nindakake angger-anggering negarane. 3. Melu cawe-cawe acancut taliwanda njaga adeging Nusa lan Bangsane. 4. Tetulung marang sapa bae yen perlu, kanthi ora nduweni pamrih apa bae, kejaba mung rasa welas lan asih. 5. Wani urip kanthi kapitayan saka kekuwatane dhewe. 6. Tanduke Marang warga bebrayan kudu susila kanthi alusing budi pakarti, tansah agawe pepadhang lan mareming liyan. 7. Yakin yen kahanan donya iku ora langgeng tansah owah gingsir (anyakra manggilingan)
Dalam Bahasa Indonesia:
  • Setia kepada Allah Hyang ; Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha Langgeng
  • Dengan jujur dan suci hati melaksanakan perundang-undangan negaranya
  • Turut serta menyingsingkan lengan baju demi mempertahankan nusa dan bangsanya
  • Bersikap suka menolong kepada siapa saja tanpa mengharapkan balasan apapun, melainkan hanya berdasarkan pada rasa cinta dan kasih
  • Berani hidup berdasarkan pada kepercayaan atas kekuatan diri sendiri
  • Sikap dalam hidup bermasyarakat selalu bersikap kekeluargaan yang senantiasa memperhatikan kesusilaan serta halusnya budi pekerti, selalu menjadi penunjuk jalan yang mengandung jasa serta mamuaskan
  • Meyakini bahwa keadaan dunia itu tidak abadi dan selalu berubah-ubah (anyakra manggilingan - Jawa), sehingga sikap warga dalam hidup bermasyarakat tidak boleh bersifat statis dogmatis, tetapi harus selalu penuh dinamika.

    IBADAH

    Pemeluk Sapta Darma mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu ibadah, baik makan, tidur, dsb. Tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah Sujud, Racut, Ening dan Olah Rasa.
    • Sujud, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari jika tdk melaksanakan maka terhitung mundur 40 hari hidupmu.
    • Racut, adalah ibadah menghadapnya Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke Hyang Maha Kuwasa. Dalam ibadah ini, Roh Suci terlepas dari raga manusia untuk menghadap di alam langgeng/surga. Ibadah ini sebagai bekal perjalanan Roh setelah kematian.
    • Ening, adalah semadi, atau mengosongkan pikiran dengan berpasrah atau mengikhlaskan diri kepada Sang Pencipta
    • Olah Rasa, adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran jasmani setelah bekerja keras/olah raga




SANGGAR
Tempat ibadah warga Sapta Darma disebut "Sanggar" dengan seorang Tuntunan yang ditunjuk sebagai pemimpin dan bertanggungjawab dalam membina spiritual warga di sanggar tersebut. Warga Sapta Darma mengenal dua nama sanggar yaitu "Sanggar Candi Sapto Renggo" dan "Sanggar Candi Busono". Sanggar Candi Sapto Renggo hanya ada satu di Jogjakarta, adalah pusat kegiatan kerohanian Sapta Darma. Sanggar Candi Busono adalah sanggar yang tersebar didaerah-daerah
PERKEMBANGAN SAAT INI
Pada tahun 1961, Sapta Darma telah mempunyai cabang di Jawa Timur, Tengah, Samarinda, Ciamis dan Lematang (Palembang).Pada tahun ini, pengikut Sapta Darma terbanyak di kota Semarang, junlahnya tidak kurang dari 1000 orang dan jumlah seluruhnya meliputi puluhan ribu orang. Dalam salah satu situs resmi sapta darma (terakhir diupdate oleh pemilik situs Yogyakarta, 10 Nopember 1985) dikatakan bahwa menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia bahkan ke luar negeri.

Tidak ada komentar: